Untuk Mendapatkan Harga Terbaik, Segera Hubungi Kami di (021) 2961 5678                                                                                    
DOLAR AUSTRALIA SEMAKIN MENGUAT

19 Februari 2021, 14.51 WIB


image

Mata uang Negeri Kanguru semakin mahal setelah mengalami kenaikan dalam 3 hari terakhir, hingga mendekati level Rp11.000/AU$. Dolar Australia sempat berada di level tersebut pada pertengahan 2014 lalu.

Dari data Refinitiv, laju dolar Australia mengalami penguatan sebesar 0,52% ke posisi Rp10.937,78/AU$. Jika diakumulasikan, total penguatan dolar Australia dalam 3 hari terakhir hingga ke posisi tersebut sebesar 1,3%.

Sementara penguatan dolar Australia ini didorong laporan tingkat pengangguran yang turun 6,4% di bulan Januari, dan bulan sebelumnya 6,6%. Tingkat pengangguran tersebut merupakan yang terendah sejak April 2020.

Selain itu, perekrutan tenaga kerja sepanjang bulan Januari tercatat sebanyak 29.100 orang. Ini menunjukan bahwa perekonomian Australia mulai bangkit setelah mengalami resesi terparah sepanjang sejarah akibat terimbas virus Covid-19.

Terus membaiknya data tenaga kerja, kemungkinan akan membuat bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) merubah panduan kebijakan moneternya, apalagi jika tingkat pengangguran turun lebih cepat dibanding prediksinya.

Di awal bulan, RBA juga sempat mengumumkan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di posisi terendah 0,1% dan akanb menambah nilai QE sebesar AU$100 miliar.

Nilai tukar rupiah sedikit mengalami tekanan setelah Bank Indonesia kemarin menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending facility sebesar 4,25%.

Bank Indonesia (BI) juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 4,3% hingga 5,% dari yang sebelumnya di 4,8% dan 5,8%.