RUPIAH KEMBALI TERKOREKSI
06 Februari 2026, 09.05 WIB
Nilai tukar rupiah masih belum mampu bergerak menguat terhadap dolar AS. Mata uang Garuda melemah sebesar 0,15% ke posisi Rp16.850/US$. Ini melanjutkan tren pelemahan kemarin yang ditutup jatuh 0,36% ke Rp16.825/US$.
Indeks dolar AS (DXY) kembali menguat 0,04% ke level 97,865, atau memperpanjang tren penguatannya.
Indeks DXY yang bergerak menguat mencerminkan bahwa minta pelaku pasar terhadap aset berdenominasi dolar masih tinggi, kondisi ini tentu menambah tekanan pada mata uang lain, seperti rupiah.
Meningkatnya sikap risk-off turut mendorong laju dolar AS, seiring adanya tekanan di pasar saham khususnya saham teknologi di tengah kekhawatiran belanja besar pada kecerdasan buatan (AI) yang memberikan dampak terhadap sejumlah sektor.
Sentimen kehati-hatian ini terjadi meski imbal hasil US Treasury cenderung turun setelah sejumlah data mengarah ke pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan menjelang rilis payrolls Januari pekan depan.
Sementara sentimen dari lembaga pemeringkat juga menjadi sorotan. Moody’s melakukan penurunan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis (5/2/2026). Penyesuaian ini disebabkan oleh penilaian Moody’s atas menurunnya kapasitas dan prediktabilitas kebijakan, terutama dari sisi tata kelola, yang dinilai dapat menekan kredibilitas kebijakan dan kinerja ekonomi jika berlanjut.
Moody’s juga menilai, ketidakpastian kebijakan yang semaki meningkat telah menurunkan kepercayaan investor, ini tercermin dari volatilitas pasar saham dan nilai tukar.

ptsavemc@yahoo.com
ptsavemc
0877-7456-8833

