Untuk Mendapatkan Harga Terbaik, Segera Hubungi Kami di (021) 2961 5678                                                                                    
AWAL PEKAN RUPIAH CATAT PENGUATAN

23 Februari 2026, 09.19 WIB


image

Pagi hari ini, nilai tukar rupiah terhadap kurs dolar AS mencatat penguatan, seiring melemahnya dolar di pasar global.

Rupiah dibuka di posisi Rp16.855/U$S atau menguat 0,03%. Kondisi ini melanjutkan penguatan sebelumnya yang ditutup menguat 0,06% ke posisi Rp16.860/US$.

Sedangkan indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB, kini mengalami pelemahan cukup tajam hingga 0,40% ke level 97,404.

Menguatnya mata uang Garuda ini didorong oleh tekanan yang dialami oleh dolar AS di pasar global. Selain itu, pelemahan yang dialami DXY menunjukan bahwa adanya aksi jual pada aset berdenominasi dolar, yang memberikan ruang bagi penguatan mata uang lain, termasuk rupiah.

Sentimen global juga ikut mempengaruhi perkembangan kebijakan tarif AS setelah Mahkamah Agung AS memutuskan sebagaian besar tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump dinilai melampaui kewenangannya.

Namun, pasar masih mengamati respons lanjutan dari Gedung Putih, termasuk langkah terkait tarif umum 15% atas impor serta upaya dalam mempertahankan kesepakatan tarif yang lebih tinggi dengan mitra dagang. Dinamika ini dinilai dapat menggeser prospek pertumbuihan di luar AS, dan menambah ketidakpastian arah fiskal AS dan volatilitas kebijakan ke depan.

Sementara dari dalam negeri, pasar tengah menantikan rilis data APBN KiTa untuk edisi Februari 2026, yang memaparkan realisasi APBN per Januari 2026. Pada pukul 10.00 WIB, konferensi pers akan berlangsung dan dipimpin oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Rilis APBN KiTa akan menjadi indikator awal arah kebijakan fiskal di awal tahun, mulai dari kinerja pendapatan negera, realisasi belanja, hingga kebutuhan pembiayaan.

Investor akan mengamati dinamika defisit di awal 2026, lantaran pada Desember 2025 tercatat defisit APBN Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap PDB, ini lebih tinggi dibanding 2024 yang berada di kisaran 2,3% dari PDB.

Bagi pasar, arah defisit dan pembiayaan sangat berpengaruh penting terhadap ekspektasi penerbitan Surat Utang Negara (SBN, pergerakan imbal hasil, serta sentimen terhadap rupiah.