Untuk Mendapatkan Harga Terbaik, Segera Hubungi Kami di (021) 2961 5678                                                                                    
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU RUPIAH

26 Mei 2026, 09.08 WIB


image

Membuka perdagangan pagi hari ini, Selasa (26/5/2026), pergerakan nilai tukar rupiah terhadap kurs dolar AS terlihat stagnan. Mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.730/US$, atau sama dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Senin kemarin, rupiah melemah sebesar 0,23% ke posisi Rp17.730/US$. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sepanjang masa bagi rupiah terhadap dolar AS.

Sedangkan untuk indeks dolar AS (DXY) terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat menurun 0,17% ke level 99,068.

Laju rupiah hari ini, sebelum libur panjang Idul Adha terlihat masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, terutama dari pasar global.

Kurs dolar AS bergerak melemah seiring meningkatnya optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Meski peluang kesepakatan dalam waktu dekat dinilai masih rendah, namun harapan perdamaian telah mendorong harga minyal tueun ke bawah US$100/barel. Hal ini tentu meredakan tekanan yang dialami oleh mata uang negara berkembang dan memperbaiki minat pelaku pasar terhadap aset berisiko.

Perkembangan terbaru juga terlihat dari negosiator utama Iran dan mentri luar negerinya berada di Doha untuk melakukan pembicaraan dengan menteri Qatar terkait potensi kesepakatan. Meski Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan dengan baik, namun ia tetap memperingatkan adanya serangan baru jika negosiasi gagal.

Di sisi lain, Komando Pusat AS justru telah melakukan serangan baru untuk melindungi pasukannya dari ancaman pasukan Iran.

Kondisi geopolitik saat ini masih belum sepenuhnya tenang, namun pasar mulai merespons kemungkinan adanya jalan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika risiko ekstrim terhadap pasokan minyak menurun, maka tekanan terhadap inflasi dan pertumbuhan global juga dapat mereda.

Sementara pelemahan indeks dolar AS menunjukan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi posisi pada saat berdenominasi dolar. Sehingga kondisi ini dapat membuka ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah untuk bergerak menguat.