RUPIAH KEMBALI TERTEKAN
02 September 2026, 09.13 WIB
Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap kurs dolar AS pagi ini, setelah sehari sebelumnya bergerak stagnan.
Mata uang Garuda dibuka melamah dengan penurunan 0,23% ke posisi Rp17.750/US$.
Sedangkan untuk indeks dolar AS (DXY) yang mengukur penguatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,11% ke level 99,780.
Kenaikan DXY ini melanjutkan penguatan pada penutupan sebelumnya, Selasa (1/9/2026) sebesar 0,25%.
Sementara tekanan terhadap mata uang Garuda kembali muncul saat pelaku pasar kembali berburu dolar AS sebagai aset aman dan disusul konflik antara AS dan Iran yang kembali memanas.
Permintaan terhadap greenback kembali meningkat, hal ini menunjukan bahwa penguatan DXY di pasar global masih berlanjut. Kondisi tersebut mempersempit ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah.
AS kembali melakukan serangan udara terbaru terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa kemarin. Serangan tersebut menyebabkan harga minyak acuan global mengalami kenaikan lebih dari 4%, langsung membuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Selain itu, peluang kenaikan suku bunga meningkat dari sekitar 35% menjadi 68%.
Pasar juga akan menanti laporan ketenagakerjaan AS untuk periode Agustus yang akan dirilis pada Jumat pekan ini.
Tidak hanya itu, Upaya BI dalam menjaga rupiah terus dicermati oleh pasar. Gubernur BI Destry Damayanti memprediksi mata uang rupiah akan berada dalam tren penguatan pada 2027 di kisaran level Rp17.300 hingga Rp17.800/US$.

ptsavemc@yahoo.com
ptsavemc
0877-7456-8833

