RUPIAH ALAMI TEKANAN CUKUP DALAM
15 September 2026, 09.24 WIB
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap kurs dolar AS, dengan pelemahan 0,06% ke posisi Rp17.650/US$.
Sebelumnya, rupiah juga ditutup melemah pada penutupan perdagangan kemarin sebesar 0,31% ke posisi Rp17.640/US$.
Adapun indeks dolar AS (DXY) yang menjadi pengukur penguatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat menguat 0,20% ke level 99,588.
Laju rupiah hari ini dipengaruhi oleh perkembangan dari dalam negeri setelah Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026).
Sementara penguatan indeks dolar AS di pasar global masih mempersempit ruang penguatan bagi rupiah.
Pada perdagangan Senin kemarin, dolar AS bergerak menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Masih berlangsungnya konflik di Timur Tengah menyebabkan harga minyak naik, sehingga para investor kembali mencari aset aman.
Harga minyak Brent naik sekitar 5% hingga mencapai US$109,80/barel. Kondisi ini terjadi setelah serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi memperbesar kekhawatiran akan pasokan energi. Risiko bertambah setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, dan jalur menuju Laut Merah juga menghadapi ancaman.
Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga AS kembali meningkat setelah harga energi yang tinggi memperbesar tekanan inflasi AS.
Ketegangan tersebut membuat harga minyak Brent naik tinggi hingga 3,36% dan ditutup di level US$101,21/barel, ini menjadi posisi tertinggi sejak Mei 2026.
Ekspektasi kenaikan suku bunga ikut memperkuat laju dolar lantaran aset berdenominasi mata uang AS menajdi lebih menarik. Hal ini semakin menekan pergerakan rupiah.

ptsavemc@yahoo.com
ptsavemc
0877-7456-8833

