Untuk Mendapatkan Harga Terbaik, Segera Hubungi Kami di (021) 2961 5678                                                                                    
MAYORITAS MATA UANG ASIA BERGERAK MELEMAH

16 September 2026, 10.03 WIB


image

Tekanan dolar AS kembali membayangi pasar valuta Asing pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah, seiring penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS (The Fed) malam nanti.

Dari sembilan mata uang Asia, ada sebanyak enam mata uang yang bergerak melemah terhadap kurs dolar AS, sedangkan dua mata uang lainnya stagnan.

Won Korea Selatan mencatat penurunan terdalam hingga 0,56% ke posisi KRW 1.369,67/US$.

Greenback juga menekan laju rupiah pagi ini, setelah empat hari berturut-turut mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Rupiah melemah sebesar 0,23% ke posisi Rp17.720/US$.

Yen Jepang justru terkoreksi 0,13% ke posisi JPY 155,29/US$, disusul dong Vietnam yang melemah 0,10% ke VND 25.984/US$.

Dolar Singapura turun 0,07% ke posisi SGD 1,2732/US$, dan dolar Taiwan turun 0,06% ke TWD 31,834/US$.

Sementara penguatan tertinggi dialami oleh peso Filipina 0,07% ke posisi PHP 62,721/US$, dengan bath Thailand yang menguat 0,03% ke THB 32,25/US$. Untuk yuan China stagnan di posisi CNY 6,7113/US$.

Laju mata uang Asia masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,09% ke level 99,704 atau mendekati level psikologisnya di 100.

Dolar AS bergerak menguat terhadap mayoritas mata uang utama setelah harga minyak melonjak tinggi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Hal ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikan suku bunganya pekan ini.

Yen Jepang juga kembali melemah dan menjauhi level tertingginya dalam tujuh bulan. Dolar AS sempat naik 0,5% terhadap yen Jepang pada perdagangan Selasa, saat yen Jepang sempat melemah mendekati level 155/US$.

Kini pasar juga tengah menanti keputusan Bank of Japan (BOJ). BOJ diperkirakan juga akan menaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16 dan 17 September.

Kurs dolar AS yang kembali menguat, menyebabkan tekanan terhadap mata uang Asia masih cukup besar.